SEKOLAH LITERASI: PENDIDIKAN TANGGUNG JAWAB MELALUI RUANG PRIVAT

Hal sederhana seperti merapikan lemari ternyata dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan pendidikan yang lebih luas. Dalam Sekolah Literasi, Pak Guru Heru Kurniawan bercerita tentang pengalaman putranya yang tinggal di sebuah pondok pesantren modern. Di pondok tersebut, sebagian besar santri berasal dari keluarga berada dan tidak semuanya terbiasa mengurus kebutuhan pribadi secara mandiri.

Salah satu kebiasaan yang dibangun di pondok tersebut adalah patroli dan penilaian kerapian kamar serta lemari santri. Putra Pak Guru kemudian mendapatkan juara karena memiliki kamar dan lemari yang sangat rapi. Hal yang menarik justru terjadi setelahnya. Beberapa teman putranya datang dan meminta diajari bagaimana cara menata lemari agar barang-barang mereka bisa tersusun dengan baik. Bagi Pak Guru, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kerapian bukan sekadar persoalan estetika, melainkan keterampilan hidup yang perlu dipelajari.

“Dari situ saya berpikir, ternyata pembelajaran tentang ruang privasi ini belum banyak terjadi dalam pendidikan kita. Anak perlu diajari bagaimana mengurus ruangnya sendiri, bagaimana menjaga barang-barangnya, bagaimana bertanggung jawab terhadap sesuatu yang menjadi miliknya,” ujar Pak Guru.

Menurut Pak Guru, pendidikan tentang ruang privasi semestinya tidak berhenti pada persoalan kamar atau lemari. Kebiasaan merawat ruang pribadi merupakan latihan awal untuk memahami tanggung jawab yang lebih luas. Seseorang yang terbiasa menjaga ruangnya sendiri diharapkan dapat memahami bahwa ruang bersama juga membutuhkan perhatian. Karena itu, sekolah, pesantren, hingga perguruan tinggi perlu memberi ruang bagi pembelajaran semacam ini, bukan hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana seseorang mengelola kehidupan sehari-harinya.

Namun, persoalan tersebut ternyata tidak hanya menjadi pekerjaan anak-anak. Orang dewasa, termasuk tenaga pendidik, pun masih perlu terus belajar memberikan teladan. Pak Guru mencontohkan hal sederhana yang kerap ditemui setelah kegiatan rapat. Tidak sedikit peserta yang meninggalkan kotak makanan, gelas, atau sampah miliknya begitu saja setelah acara selesai.

“Kadang kita ingin mengajarkan anak tentang kebersihan dan kerapian, tetapi kita sendiri masih meninggalkan sampah setelah rapat. Pendidikan itu bukan hanya apa yang kita katakan kepada anak, tetapi juga apa yang mereka lihat dari perilaku kita,” tutur Pak Guru.

Dari cerita tentang lemari yang rapi, Sekolah Literasi kemudian sampai pada satu kesadaran bahwa pendidikan sering kali justru tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Merapikan barang, membersihkan ruang setelah digunakan, dan tidak meninggalkan sampah bukan sekadar pekerjaan teknis. Di dalamnya ada latihan tentang kemandirian, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap ruang yang ditempati bersama. Pendidikan barangkali memang tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Bisa jadi, ia dimulai dari kesediaan seseorang untuk membereskan ruangnya sendiri sebelum meminta orang lain melakukan hal yang sama.

Penulis
Tania Rahayu
Relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top