SEKOLAH LITERASI: BELAJAR MENUMBUHKAN AMBISI MELALUI IRI YANG BERETIKA

Keinginan untuk berkembang terkadang tidak selalu muncul dari dalam diri. Melihat orang lain tumbuh, berprestasi, dan mencapai sesuatu yang belum dimiliki justru dapat menjadi pemantik untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana kita sudah berusaha?

Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Sekolah Literasi yang diikuti para relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir. Pada kesempatan tersebut, Pak Guru Heru mengajak para relawan melihat rasa iri dari sudut pandang yang berbeda. Iri tidak selalu harus dipahami sebagai perasaan negatif. Dalam konteks tertentu, rasa iri dapat menjadi energi untuk mendorong seseorang memiliki keinginan berkembang dan mencapai sesuatu yang lebih baik.

Menurut Pak Guru Heru, seseorang perlu memiliki ambisi untuk terus meningkatkan kualitas dirinya. Melihat pencapaian orang lain dapat menjadi cermin sekaligus pemantik agar seseorang tidak merasa cukup dengan kondisi yang sedang dijalani.

“Kadang kita memang perlu iri kepada orang lain, tetapi irinya dalam hal kebaikan. Ketika melihat orang lain berprestasi dan berhasil, kita harus terdorong untuk punya ambisi yang lebih besar agar kita juga bisa berkembang.”

Meski demikian, rasa iri perlu ditempatkan dalam batas-batas etika. Keinginan untuk melampaui pencapaian orang lain tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan sikap baik, merendahkan orang lain, atau menunjukkan rasa tidak senang terhadap keberhasilan orang lain. Ambisi perlu berjalan bersama kemampuan menjaga diri dan menghargai orang lain.

Pembahasan tersebut kemudian terasa dekat dengan pengalaman para relawan yang sebagian besar berasal dari generasi Z. Dalam keseharian, mereka menyadari adanya kecenderungan untuk bersikap lebih santai dalam menghadapi pencapaian orang lain. Ketika melihat teman lebih dahulu mengikuti kegiatan, mendapatkan kesempatan, atau mencapai sesuatu, respons yang muncul terkadang justru, “Kalau kamu mau duluan, ya sudah, tidak apa-apa. Nanti juga saya bisa.”

Sikap tersebut memang dapat menunjukkan kemampuan untuk tidak terlalu membandingkan diri dengan orang lain. Namun, jika terus dibiarkan, sikap terlalu santai juga dapat membuat seseorang kehilangan dorongan untuk bergerak lebih cepat dan mengejar kesempatan yang sebenarnya dapat mengembangkan dirinya.

Salah seorang relawan merefleksikan hal tersebut sebagai kebiasaan yang perlu mulai disadari dan diperbaiki.

“Kadang kita sebagai Gen Z memang terlalu santai. Lihat orang lain maju duluan, respons kita malah ‘ya sudah, kamu duluan saja’. Padahal mungkin rasa ingin mengejar itu justru perlu supaya kita punya target dan tidak terus merasa nyaman di tempat yang sama.”

Pembahasan ini menjadi refleksi bagi para relawan bahwa keinginan untuk berkembang perlu dipelihara. Melihat pencapaian orang lain dapat menjadi dorongan untuk memperbesar ambisi, selama tetap disertai etika, sikap menghargai, dan kemauan untuk memperbaiki diri.

Penulis
Tania Rahayu

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top