Bagi relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK), Sekolah Literasi bukan sekadar agenda rutin. Melalui wawancara bersama Kak Alfi, salah seorng relawan rkwk melihat bahwa Sekolah Literasi telah menjadi ruang belajar, ruang refleksi, sekaligus ruang bertumbuh bagi banyak relawan.
Dari penuturan Tania, Sekolah Literasi dipandang sebagai wadah belajar yang hangat dan menyenangkan. Ia merasa tidak hanya belajar membaca dan menulis dengan lebih baik, tetapi juga belajar berbicara, mendengarkan, serta memahami bagaimana bersikap dengan tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Alfi juga menyampaikan bahwa kedekatan antarrelawan membuat suasana Sekolah Literasi terasa akrab. Dalam proses itu, ia menyadari masih banyak hal yang perlu terus diperbaiki dalam dirinya, dan Sekolah Literasi menjadi salah satu tempat yang membantunya belajar memperbaiki sikap secara perlahan.
Hal menarik lainnya, Alfi melihat Sekolah Literasi sebagai safe zone di tengah kepenatan aktivitas harian. Candaan sederhana dari teman-teman relawan ternyata memiliki arti besar karena mampu mengurangi rasa lelah dan menghadirkan kembali semangat.
Namun, Sekolah Literasi tidak hanya menghadirkan kenyamanan. Dari wawancara tersebut, tetapi juga sering menjadi ruang refleksi yang mendorong relawan untuk terus bertumbuh dan tidak berhenti belajar.
Alfi turut menceritakan perubahan Sekolah Literasi dari masa ke masa. Pada periode 2020–2023, Sekolah Literasi menjadi agenda yang hampir wajib diikuti relawan. Saat itu, relawan bersama Pak Guru menentukan buku yang akan dibahas setiap bulan, menabung untuk membeli buku yang sama, lalu mendiskusikannya bab demi bab. Beberapa relawan bergiliran memantik diskusi dan melakukan presentasi yang disiarkan melalui Instagram Live. Dengan jumlah relawan sekitar 23–25 orang, suasana diskusi terasa sangat hidup dan ramai.
Melalui cerita Kak Alfi Sekolah Literasi telah melahirkan banyak capaian nyata. Sejumlah relawan berhasil menerbitkan buku, memenangkan berbagai lomba, menjadi guru dan dosen, menerbitkan artikel di jurnal Sinta, hingga menekuni profesi pendongeng dan pantomim profesional.
Selain capaian yang terlihat, ada pula perubahan yang lebih personal. Alfi mengaku bahwa Sekolah Literasi perlahan membantunya menjadi lebih berani berbicara dengan orang lain. Jika dahulu ia merasa sangat introvert dan antisosial, kini ia mulai memiliki keberanian untuk berinteraksi lebih terbuka.
Melalui wawancara ini, Kak Alfi melihat bahwa Sekolah Literasi bukan hanya tentang membaca buku atau berdiskusi. Lebih dari itu, Sekolah Literasi adalah ruang perjumpaan yang memungkinkan relawan saling menguatkan, belajar bersama, dan bertumbuh bersama. Di balik setiap diskusi dan setiap halaman yang dibaca, terdapat proses panjang pembentukan keberanian, kepercayaan diri, dan kualitas diri para relawan.


