SEKOLAH LITERASI: MENJAGA PENGETAHUAN TETAP HIDUP DENGAN MENULIS DAN BERCERITA

Pengetahuan yang diperoleh seseorang tidak selalu dapat bertahan dalam ingatan jika hanya dipelajari dan didengarkan. Seiring berjalannya waktu, berbagai informasi dapat terlupakan apabila tidak diolah kembali. Dalam Sekolah Literasi, Pak Guru Heru mengajak para relawan memahami bahwa menulis dan bercerita dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga pengetahuan agar lebih lama tersimpan dalam memori.

Menurut Pak Guru Heru, ketika seseorang menulis, ia tidak sekadar memindahkan informasi ke dalam bentuk tulisan, tetapi juga kembali mengingat, menyusun, dan memahami apa yang telah dipelajarinya. Hal serupa terjadi ketika seseorang menceritakan kembali pengetahuan kepada orang lain. Proses tersebut membuat seseorang melakukan pengulangan sekaligus mengolah kembali informasi dengan bahasanya sendiri. “Kalau kita ingin pengetahuan itu bertahan lama, salah satu caranya adalah dengan menulis dan bercerita. Ketika kita menulis dan bercerita, sebenarnya kita sedang mengingat kembali apa yang sudah kita pelajari,” ujar Pak Guru Heru.

Kebiasaan menulis dan bercerita juga dapat membuat proses belajar menjadi lebih bermakna. Pengetahuan tidak berhenti sebagai informasi yang diterima, tetapi berkembang menjadi sesuatu yang dipahami dan mampu disampaikan kembali. Karena itu, kegiatan literasi tidak hanya berkaitan dengan membaca, tetapi juga bagaimana seseorang mengolah pengetahuan menjadi gagasan yang dapat dibagikan kepada orang lain.

Bagi para relawan, pembahasan tersebut menjadi pengingat bahwa belajar perlu dilanjutkan dengan proses mengolah dan membagikan kembali apa yang telah diperoleh. Menulis catatan, membuat cerita, atau sekadar menceritakan kembali pengalaman belajar dapat menjadi latihan sederhana untuk menjaga pengetahuan tetap hidup dalam ingatan.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top