
Sajak-Sajak Fariz Nurul Hidayat
RESAH Setelah ku teguk kesekian kali animo Melanjutkan perjalanan kelesah Menyusuri belantara,terseok seok meniti Mengenyam rasa takut tiada henti Apa aku di alam mimpi? Ataukah

RESAH Setelah ku teguk kesekian kali animo Melanjutkan perjalanan kelesah Menyusuri belantara,terseok seok meniti Mengenyam rasa takut tiada henti Apa aku di alam mimpi? Ataukah

SANDE RASA Masih kugenggam getar rasa yang menghindar dari perangkapRaut Wajahmu yang mengabur pada dinding kamarWaktu terus menggembalaMemaksa diri untuk lupa Aku menyimpannya dalam balutan

SENGSARA RINDU Aku menderu dalam luka paling biruRinduku lebam melawan waktuJarak di antara kita makin menyayat lukaTuhan, aku sengsara Aku bersimpuh pada TuhanKarena hati tak

INI LAH CARAKU Aku mencintaimu dengan rasa dan logikaRasa yang menaruh harapanLogika yang berujung kesakitanSemesta tahu aku mempunyai kelemahanKelemahanku adalah ingin mencari tahu semua tentangnyaYang

MENEPI Di ujung bumi yang tak berpenghuniHujan air mata mulai membasahiHati tak kuasa membentengiRemuk tak tersisa lagi Harapan yang kau janjikan, hanyalah fatamorganaYang tak patut

SESAK BERSAMAMU aku sesak bersamamu sajadalam batas bias mariana dan bintang tsuroya aku sesak bersamamu sajadalam semerbak beranta gelombang renjana aku sesak bersamamu sajadalam dekapan

KAU YANG BIRU Kau biru yang merinduSendumu merayuTenangmu hangat merengkuh kalbu Birumu atmaPanas menggeloraLebih membakar dari api merahnyaTapi juga dinginMemeluk palung dan samudra Birumu lapangMembentang

RENJANA Waktu masih terus berdetakAtma rinduku semakin tercekatIa bermuara di palung sukma yang tampak cacatLalu tenggelam dalam jarak yang semakin berkarat Aku menyisir ingatanKenangan itu

LUKA YANG ABADI Atma yang di dekap oleh dukaDuka yang membawa ke ujung laraLara yang menjadikan lukaLuka yang menjadi air mata Malam yang sunyi dengan

MAWAR TANPA TANGKAI aku mencintaimu dengan sandiwaraberkata tidak, dalam hati sungguh sepihakberpaling sedang mata harap menatap aku mencintaimu dengan sandiwarayang hanya diam, seluruh bibir hendak

KESAYANGAN Subuh tadi bintang masih menariSuara kakek berkumandang sampai ke sudut-sudut mimpiSelepas meneguk kerja rodiMata yang dikebiri akhirnya tak sanggup berdiriKelopaknya jatuh menangkap seporsi hibernasiTiba-tiba

MOKSA dalam keramaian tak terdengar lagi suara gaduhmuhanya raut tanpa senyumawan tanpa rupa matahari lalu di penghujung terjaganya matasunyi tiba-tiba runtuh lalu dalam terjaganya mataada