
SAKIT TENGGOROKAN BISA SEMBUH DENGAN CARA INI
Jumat, 22 November 2024, selepas bangun pagi saya merasakan sakit tenggorokan. Alamat pemicunya langsung tertuju pada makan mangga malam hari. Tapi, ini bukan pemicu satu-satunya.

Jumat, 22 November 2024, selepas bangun pagi saya merasakan sakit tenggorokan. Alamat pemicunya langsung tertuju pada makan mangga malam hari. Tapi, ini bukan pemicu satu-satunya.

Kami semakin berbangga dengan capaian kami, TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir. Kenapa bisa demikian? Karena bulan Oktober 2024 menjadi capaian terbaik sepanjang sepuluh tahun berdiri.

Ada yang istimewa dalam kegiatan Sekolah Literasi dan Sastra minggu ini. Kegiatannya selama empat hari ke depan, dari Senin–Kamis, 7-10 Oktober 2024 akan langsung diampu

RESAH Setelah ku teguk kesekian kali animo Melanjutkan perjalanan kelesah Menyusuri belantara,terseok seok meniti Mengenyam rasa takut tiada henti Apa aku di alam mimpi? Ataukah

Sebuah pesan singkat masuk di ponsel remaja dan relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir. Pesan itu berisi pemberitahuan kegiatan evaluasi kegiatan selama bulan September. Kegiatan evaluasi

Dalam suatu obrolan sederhana di Rumah Kreatif Wadas Kelir dengan relawan dan remaja, Senin, 30 September 2024. “Pak Guru, kolam lelenya masih ada ikannya?” tanya

Sabtu, 28 September 2024, tepatnya pukul 19.30 WIB Rumah Kreatif Wadas Kelir kedatangan tamu. Tamu istimewa sebab yang bersangkutan adalah tokoh masyarakat dan tokoh agama.

MENUNGGU IBU PULANG Panda duduk sendiri di teras rumah.Rumah Panda berdiri di tengah hutan.Pandangan Panda tertuju pada jalan.Jalan setapak yang membentang di depan rumah.“Kapan ibu

Salah satu kebiasaan baik yang terus dijaga dan dikembangkan di Komunitas Sastra Rumah Kreatif Wadas Kelir adalah evaluasi kegiatan sastra yang telah dilakukan. Di sini,

Minggu, 7 September 2024, ada yang istimewa di Rumah Kreatif Wadas Kelir. Lihat saja! Halaman terasnya sudah bersih dan rapi. Suasananya tambah hijau dan nyaman.

SANDE RASA Masih kugenggam getar rasa yang menghindar dari perangkapRaut Wajahmu yang mengabur pada dinding kamarWaktu terus menggembalaMemaksa diri untuk lupa Aku menyimpannya dalam balutan

SENGSARA RINDU Aku menderu dalam luka paling biruRinduku lebam melawan waktuJarak di antara kita makin menyayat lukaTuhan, aku sengsara Aku bersimpuh pada TuhanKarena hati tak